Banyak kawan yang telah lama berkecimpung di sebuah komunitas mulai merasa jenuh. Mereka melihat adanya kejumudan, eksklusivitas, bahkan kecenderungan elitis-sentris di dalamnya. Kritik pun bermunculan mulai dari tajam, keras, hingga disertai kebanggaan saat mereka menyatakan keluar, seolah telah “tercerahkan” dan “terbebaskan”.
Namun mereka lupa, ke mana pun mereka akan berlabuh, atau komunitas baru apa pun yang kelak mereka bentuk, tetap akan menemui hal yang sama yaitu ketidaksempurnaan.
Beberapa di antara mereka merasa bangga karena telah mampu menelanjangi kelemahan komunitas lama. Ada pula yang menyeberang ke komunitas lain, seolah di sana semua berjalan ideal, bebas dari kelemahan dan lebih terbuka terhadap kritik.
Sebagian lagi memilih mendirikan komunitas baru. Mereka yakin bisa menjalankan segala hal yang dulu hanya mereka suarakan. Padahal, mereka kerap lupa bahwa komunitas lama yang mereka tinggalkan adalah entitas yang tumbuh dari sejarah panjang, penuh dinamika, gesekan, dan pembelajaran. Artinya, apa yang mereka lakukan sejatinya hanyalah pengulangan dari siklus lama, hanya berganti nama dan wajah.
Apakah ini berarti kita tak boleh mengkritik komunitas lama?
Tentu saja boleh. Kritik adalah vitamin agar sebuah komunitas tetap hidup.
Namun, yang lebih menantang dan jauh lebih mulia adalah ketika kita memilih bertahan dan melakukan perbaikan dari dalam. Bukan sekadar pergi karena bosan, jenuh, atau merasa tak cocok.
Jika kita sungguh menginginkan ide persatuan terwujud, maka janganlah menambah sekat dengan membentuk komunitas baru. Setiap kali kita membuat “kotak” baru, peluang untuk bersatu justru makin kecil. Semakin banyak alternatif, semakin banyak perpecahan.
Sejarah membuktikan bahwa komunitas baru yang lahir karena “sakit hati” atau karena merasa bosan dan jumud, jarang mampu menandingi apalagi mengalahkan komunitas induknya.
Apakah tulisan ini pesimis?
Tentu tidak. Semua tergantung pada cara kita memandangnya.
Pesan sederhananya bahwa keluar dari komunitas tak menyelesaikan masalah, justru kerapkali menambah masalah baru.
#SekadarBerbagi #SalamAKUBISA
Surabaya, 29 Dzulhijah 1436 H / 12 Oktober 2015


Leave a Reply