,

Belajar Politik dari “Love in The Moonlight” dan Gelombang Hallyu


Akhir-akhir ini saya sedang rajin mencatat. Bukan tentang angka atau laporan keuangan, melainkan catatan-catatan kecil untuk sebuah laporan rutin yaitu menonton dan menulis ulasan film-film drama Korea, sebuah dampak langsung dari Hallyu Wave, gelombang budaya pop Korea yang mendunia.
Tugasnya sederhana yaitu menonton, lalu menuliskannya dalam sekitar 1.200 kata. Mungkin karena dulu saat kuliah di Hubungan Internasional Universitas Airlangga saya sudah terbiasa dengan tugas-tugas seperti ini, semuanya terasa seperti dejavu yang menyenangkan.

Film pertama yang saya tonton dalam rangka proyek ini tentu saja The Descendants of the Sun (2016), drama fenomenal yang dibintangi dua ikon besar K-Pop: Song Joong Ki dan Song Hye Kyo. Jujur, alasan awal saya memilih film ini sederhana, karena ada nama Song Hye Kyo di sana.
Setelah itu berlanjut ke Doctors (Park Shin Hye dan Kim Rae Won), lalu Bring It On, Ghost!, sebuah drama nyeleneh tapi menghibur tentang pemburu hantu yang jatuh cinta pada arwah cantik, dibintangi oleh TaecYeon dan Kim So Hyun.

Namun, film terakhir dalam daftar saya kali ini terasa berbeda.
Judulnya Love in the Moonlight atau Moonlight Drawn by Clouds. Drama ini saya pilih bukan hanya karena ceritanya yang manis, tetapi karena temanya yang menyentuh wilayah yang akrab bagi saya yaitu politik dan kekuasaan, dua kata kunci yang juga kerap muncul dalam ruang kuliah HI atau di FISIP, terutama pada mata kuliah Masyarakat dan Budaya Asia Timur (sayangnya dulu saya tidak sempat mengambilnya).



Membaca dan Berdiskusi: Akar Perubahan

Dari seluruh pesan tersirat Love in the Moonlight, satu hal yang paling menonjol bagi saya adalah bahwa perubahan besar selalu dimulai dari membaca dan berdiskusi.
Putra Mahkota Lee Young digambarkan sebagai sosok yang haus ilmu, rajin membaca, dan memiliki perpustakaan pribadi, kebiasaan yang diwarisi dari ibunya.
Di sinilah film ini terasa seperti cermin bahwa betapa membaca dan berpikir kritis menjadi fondasi lahirnya ide-ide baru, termasuk ide pembebasan dan transformasi politik.

Selain itu, film ini menempatkan perempuan dalam posisi penting dalam sejarah kekuasaan. Dari Hong Ra On yang cerdas dan berani hingga permaisuri yang menjadi korban intrik politik, semua menunjukkan bahwa peran perempuan dalam sejarah politik bukanlah pelengkap, melainkan bagian dari motor perubahan. Tak heran jika drama ini mencapai rating share di atas 20% pada beberapa episode puncak.

Secara tidak langsung, film ini mengajarkan bahwa dalam politik, seperti juga dalam hidup, kita harus berhati-hati terhadap orang terdekat, sebab mereka paling tahu kelemahan kita. Namun, film ini juga mengingatkan bahwa menemukan orang yang benar-benar bisa dipercaya adalah hal yang langka dan berharga.


Image result
Picture Film Love In The Moonlight. (Gambar bukan milik saya)

Politik, Cinta, dan Intrik Istana

Love in the Moonlight diadaptasi dari novel daring populer yang muncul pada 2013. Serial 18 episode ini menampilkan Park Bo Gum sebagai Putra Mahkota Lee Young dan Kim Yoo Jung sebagai Hong Ra On, seorang gadis yang menyamar sebagai laki-laki dan bekerja sebagai kasim istana karena keadaan.
Identitasnya yang tersembunyi membawa kisah penuh intrik, konspirasi, dan cinta terlarang di tengah pusaran politik Dinasti Joseon.

Latar waktunya adalah abad ke-19, masa ketika pengaruh Barat mulai merembes ke Asia Timur. Unsur teologi pembebasan dan gagasan perubahan sosial-politik mulai terasa, bahkan dalam lingkungan istana yang tampak kaku dan hierarkis. Dalam beberapa adegan, kita bisa melihat simbol modernitas seperti teropong dan pistol, yang menjadi metafora atas “penglihatan baru” dan kekuasaan baru.

Yang menarik, konflik di dalam film ini tidak hanya soal cinta, tetapi juga tentang bagaimana kekuasaan bekerja dan runtuh.
Koalisi yang dibangun atas dasar kepentingan ternyata rapuh, konspirasi berbalik arah, dan pengkhianatan sering datang justru dari orang terdekat.
Putra Mahkota Lee Young, yang awalnya diremehkan karena muda dan idealis, perlahan menunjukkan ketajamannya membaca situasi. Ia berhasil membongkar lapisan demi lapisan intrik, mulai dari pengkhianatan permaisuri, permainan licik perdana menteri, hingga manipulasi di kalangan kasim dan tabib istana.

Saya tak bisa menahan diri untuk tidak membandingkannya dengan realitas politik modern kita. Pemimpin muda, skeptisisme terhadap usia, dinamika koalisi pragmatis, semuanya terasa akrab. Bahkan dalam film ini, Lee Young sering berdiskusi dengan seorang tabib tua di luar istana, sebuah gambaran betapa pentingnya mentor dan ruang belajar lintas generasi dalam politik.

Image result
beberapa potongan adegan dalam film Love In The Moonlight.

Dari Joseon ke Jakarta: Sebuah Refleksi

Menonton Love in the Moonlight membuat saya teringat pada dinamika politik Indonesia pasca Pilpres 2014 dan menjelang berbagai Pilkada. Isu koalisi rapuh, politik transaksional, bahkan sedikit aroma politik identitas, semuanya terasa familiar jika dibandingkan dengan intrik istana Dinasti Joseon.
Kisah fiktif ini ternyata menjadi cermin kecil bagi realitas kita hari ini dimana kekuasaan bukan hanya tentang siapa yang menang, tapi juga tentang siapa yang sanggup bertahan menjaga idealismenya di tengah badai kepentingan.

Mungkin, di situlah letak keindahan menonton drama Korea. Ia tidak sekadar hiburan, tapi juga laboratorium sosial-politik mini yang memperlihatkan sisi-sisi manusia mulai dari cinta, ambisi, pengkhianatan, hingga harapan.
Dan mungkin, seperti kata Putra Mahkota Lee Young, perubahan sejati selalu dimulai dari keberanian untuk berpikir berbeda, serta dari sebuah buku yang dibuka pada malam yang tenang di bawah sinar bulan.


The Wedang Godhog
14 November 2016 | Pukul 00.53 WIB

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *