Catatan dari Libreria Eatery: Sebuah Kamis Sore Mahasiswa S3 FISIP UNAIR


Kafe Libreria Eatery di Ngagel, Surabaya, seperti biasa masih menyimpan aroma khas perpaduan kopi dan halaman buku. Dindingnya yang dipenuhi rak dan poster-poster literasi seolah menjadi cermin kecil dari hidup para penghuni sementara yang datang untuk berdiskusi, menulis, atau sekadar melarikan diri sejenak dari dunia akademik yang menuntut.

Siang hingga sore itu, Kamis (6/11/2025) yang teduh di awal bulan November, selepas dari gedung ASEEC selepas makan siang bersama teman-teman lain seperti Kak Syifa dan Kak Sonya, kami berlima yaitu Rawi dan Risma yang merupakan pasangan suami istri dari Palu yang sama-sama menempuh S3 di FISIP UNAIR; Pipit si perempuan enerjik dari Jakarta yang kini bolak-balik Sidoarjo-UNAIR memakai kereta; Izzudin, “si Yogya” yang baru saja melewati ujian kelayakan dengan ekspresi separuh lega separuh skeptis; dan aku sendiri, Bustomi, si “Santri Jalanan” yang masih berusaha menikmati kuliah doktoral di sela kesibukan menjadi pengayom umat di “pesantren kehidupan”, melanjutkan obrolan ke lokasi berbeda.

Kami duduk di meja panjang dekat jendela besar, ditemani Americano dingin, cokelat panas, dan percakapan yang mengalir seperti es batu yang perlahan mencair di gelas-gelas kami. Dan isi cerita di dalam catatan ringan ini adalah “khayalan” penulis yangd diambil dari saripati dan tidak menggambarkan isi obrolan yang sesungguhnya.

“Lucu juga ya,” kata Pipit sambil menyeruput kopi, “semakin tinggi jenjang akademik, semakin terasa kita nggak tahu apa-apa.”

Kami tertawa kecil. Tawa yang bukan karena lucu, tapi karena benar.

Dalam teori Karl Popper, knowledge grows through refutation. Semakin kita meneliti, semakin kita sadar bahwa yang kita ketahui hanyalah sebagian kecil dari samudra besar pengetahuan yang belum tersentuh. Pipit melanjutkan, “Dulu waktu S1, aku merasa teori itu jawaban. Sekarang, di S3, teori justru jadi pertanyaan baru yang nggak ada habisnya.”

Risma menimpali lembut, “Aku justru merasa, semakin lama, teori sosial itu seperti kaca pembesar. Ia memperlihatkan betapa manusia itu kompleks, termasuk diri kita sendiri. Tapi ya… kadang teori itu kalah oleh anak-anak yang tiba-tiba minta susu di tengah aku nulis tugas kuliah.”

Tawa kami pecah lagi. Rawi, suaminya, menepuk pundaknya. “Teori sosial tak pernah memperhitungkan rengekan anak jam dua pagi.”

Aku mengangguk pelan. Di tengah percakapan itu, mataku menangkap Risma yang sesekali melirik ke arah sudut Child Room kafe Libreria Eatery penuh mainan, boneka, dan warna pastel. Pandangannya lembut, seperti ingin sejenak kembali ke rumah dan memeluk anak-anaknya.

Izzudin, yang dikenal tenang dan reflektif, menatap ke arah cangkirnya sebelum berkata pelan, “Kadang aku merasa, kuliah S3 ini sebenarnya bukan tentang menulis disertasi. Tapi tentang melatih kesunyian.”

Kami semua diam.

“Serius,” lanjutnya, “ujian kelayakan kemarin itu semacam perayaan dari berbulan-bulan dialog sunyi antara aku dan teks-teks yang kubaca. Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku memahami teori itu, atau justru teori itu yang sedang memahami aku?”

Aku menimpali sambil tersenyum, “Mungkin, Din, kita memang sedang diteliti oleh teori. Kita pikir sedang meneliti masyarakat, padahal manusialah yang sedang diuji tentang kesabaran, ketekunan, dan kesediaan mengakui bahwa diri ini kecil.”

Rawi tertawa pelan. “Jadi, pada akhirnya, kuliah S3 itu bukan tentang menjadi pintar, tapi tentang belajar bertahan?”

Pipit menjawab cepat, “Dan belajar tidak gila di tengah revisi.”

Kali ini tawa kami lebih lepas. Tawa yang lahir dari kelelahan yang sama, dari ruang perjuangan yang sepi tapi juga penuh makna.

Aku melihat sekeliling meja kami, buku-buku tebal terbuka di antara piring kecil croissant, HP kecilku tetap menyala yang sesekali kulihat karena menampilkan draft proposal disertasi yang belum selesai, dan cangkir-cangkir yang mulai kosong. Ada kehangatan yang tidak bisa dijelaskan teori sosial mana pun yakni kehangatan dari sesama pengelana pengetahuan.

Di titik ini, aku teringat apa yang pernah dikatakan Paulo Freire bahwa Education is an act of love, and thus an act of courage. Mungkin, kuliah doktoral bukan semata-mata tentang menulis pengetahuan baru, tetapi tentang mencintai proses berpikir, meski ia melelahkan.

Izzudin menatap dan berkata, “Aku suka kalimatmu, Kanda. Mungkin ini juga tentang mencintai hidup yang berjalan di tengah riset. Karena pada akhirnya, dunia akademik itu hanyalah salah satu ruang dari kehidupan yang lebih luas.”

Siang mulai beranjak menuju sore. Kafe semakin ramai, aroma kopi makin tebal, dan percakapan kami pelan-pelan berakhir seperti paragraf terakhir dalam jurnal ilmiah yang terbuka untuk diskusi lanjutan.

Kami pun beranjak, menenteng tas masing-masing, draft proposal disertasi, dan segenggam semangat yang terasa lebih hangat dari cokelat di cangkir tadi dan kembali pulang ke tempat masing-masing yang disambut hujan deras tanda diberkahiNya. Semoga.

Menjadi mahasiswa S3, kupikir, adalah perjalanan spiritual dalam wujud intelektual. Ia tidak selalu cemerlang, seringkali melelahkan, tapi selalu mengandung makna. Seperti hidup dimana ia tidak harus cepat, cukup dijalani dengan kesadaran dan rasa syukur.

Dan mungkin, di antara tumpukan teori, tugas UAS yang mulai bermunculan meski baru dimulai bulan depan dan catatan lapangan dari beberapa kami, saya meyakini semua sedang menulis “disertasi yang jauh lebih penting” yakni disertasi tentang menjadi manusia. Bismillah.(*)

SURABAYA,

Jumat, 7 November 2025 pkl. 09.33 WIB

SANTRI JALANAN

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *