Mengaji Kitab Safinatun Najah (1)


Assalamualaikum Wr. Wb., dulur.

Alhamdulillah, setelah sekian lama absen karena kesibukan mengurus berbagai urusan bisnis, riset, dan website lain, akhirnya saya bisa kembali menyapa panjenengan semua di ruang sederhana ini.
Mulai tahun 2022 lalu, tepatnya Februari, setiap hari Rabu, saya memulai rutinitas baru yang insyaAllah penuh berkah yakni mengulas Kitab Safinatun Najah.

Kitab ini mungkin tampak kecil dari segi fisik, tetapi isinya sungguh dalam dan padat. Safinatun Najah merupakan pegangan penting bagi para pelajar dan pemula dalam memahami dasar-dasar ilmu fikih menurut mazhab Syafi’i. Disusun oleh Syaikh Salim bin Sumair al-Hadhrami, seorang ulama besar asal Hadramaut, Yaman tapi wafat di Indonesia, kitab ini berisi kesimpulan hukum fikih tanpa disertai dalil-dalilnya. Ibarat kapal kecil yang mengantar pelajar menyeberangi lautan fikih yang luas, Safinatun Najah menjadi gerbang pertama menuju pemahaman syariat Islam.

Menariknya, kajian ini saya jalani dengan bimbingan seorang guru wanita muda dari pesantren salaf di Sidoarjo, Jawa Timur. Beliau juga masih memiliki garis keturunan dari Hadramaut. Siapa beliau? InsyaAllah nanti akan saya perkenalkan setelah mendapatkan izin darinya.


Awal yang Indah di Hari Rabu

Kajian perdana ini dimulai pada Rabu, 2 Februari 2022 (2/2/22), tanggal yang cantik, seolah menjadi simbol awal baru. Kami memulainya tiap pagi, waktu terbaik untuk menimba ilmu, apalagi ilmu agama.

Setiap kali membuka kitab ini, saya selalu mengajak diri sendiri dan para pembaca untuk mengirimkan doa kepada pengarang kitab, para keturunannya, murid-murid beliau, serta guru yang mengajarkan kitab ini kepada saya.


Menyelami Rahasia Rahman dan Rahiim

Bab awal kitab ini membahas rukun Islam dan rukun Iman, fondasi dasar dalam beragama. Meski singkat, kajian ini membuka ruang diskusi luas yang membuat maknanya kian hidup.

Salah satu penjelasan menarik muncul saat membahas kalimat Bismillahirrahmanirrahim. Menurut sang guru, kata Rahman menggambarkan kasih sayang Allah yang tampak di dunia, bisa dirasakan semua makhluk. Namun, untuk bisa “menyentuhnya”, manusia harus berusaha, sambil tetap yakin bahwa semua itu berasal dari Allah semata.
Contohnya, saat kita makan dari hasil kerja yang dibayar oleh bos atau majikan, perlu diketahui bahwa sesungguhnya rezeki itu bukan dari mereka, tapi dari Allah melalui perantara mereka.

Sementara Rahiim menggambarkan kasih sayang Allah yang baru akan sepenuhnya tampak di akhirat kelak. Subhanallah, betapa dalam maknanya.


Shalawat yang Menyegarkan Jiwa

Ada satu perumpamaan indah yang disampaikan sang guru:
Shalawat kepada Rasulullah SAW itu ibarat segelas air bening yang penuh.
Saat kita bershalawat, air dalam gelas itu melimpah dan memercik keluar, mengenai siapa pun yang membacanya. Percikan itu adalah berkah Allah SWT melalui syafaat Nabi Muhammad SAW.

Maka, membaca shalawat bukan hanya bentuk cinta, tapi juga cara kita “menyentuh” limpahan rahmat-Nya.


Arkanul Islam: Ikhtiar Seorang Muslim

Seperti dijelaskan dalam kitab, Arkanul Islam (rukun Islam) terdiri atas lima hal:

  1. Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya,
  2. Mendirikan salat,
  3. Menunaikan zakat,
  4. Berpuasa di bulan Ramadan, dan
  5. Berhaji bagi yang mampu.

Ada catatan menarik dalam penggunaan huruf wawu ‘athaf pada bagian syahadat. Huruf penghubung ini bermakna mengulang, sehingga meski tidak disebutkan kata “persaksian” dua kali, maknanya tetap utuh. Indah, ringkas, tapi sarat makna, bukti keanggunan bahasa Arab.

Kata iqamatus shalah (mendirikan salat) juga mengandung pesan dalam yakni seperti membangun rumah, ada syarat dan rukun yang harus dipenuhi agar salat itu “berdiri” dengan benar.

Lalu tentang zakat, kitab ini memakai kata iitaa’, yang bermakna menunaikan, bukan sekadar memberi. Ini mengandung makna tanggung jawab dan kesadaran spiritual.
Dan terakhir, perintah haji bagi yang mampu.
Mampu di sini bukan berarti kaya raya, tapi berikhtiar dan berusaha. Dalam bahasa Jawa mungkin tepatnya pada kata makaryo. Islam mengajarkan bahwa setiap amal harus disertai usaha dan niat yang tulus.


Begitulah perjalanan awal kami mengarungi samudra ilmu Safinatun Najah. Sebuah kitab kecil yang membuka cakrawala besar tentang makna hidup, ibadah, dan ketundukan kepada Allah SWT.

Bersambung…

Surabaya, 2 Februari 2022 (Zoom Meeting)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *